Pengembangan SDM & Beasiswa Dalam Skema Bantuan Keuangan Internasional

Senin, 23 Oktober 2017 09:57:36 - Oleh : insan

Pengembangan SDM dan Beasiswa Dalam Skema Bantuan Keuangan Internasional *)

1). Perpektif Kebijakan Pendidikan
2). Perpektif Kebijakan ASN
3). Perpektif Kebijakan Perencanaan Pembangunan

 

Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara deskriptif mengevaluasi dan menganalisis beberapa temuan ahli dalam kerangka untuk menghasilkan sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa "bantuan keuangan adalah kebijakan yang efektif untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan penggunaan sumber daya pemerintah yang efektif". Hal ini kiranya sangat penting untuk dibahas karena berkaitan dengan prioritas anggaran negara dalam tujuannya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas unggul. Sumberdaya manusia suatu bangsa yang berkualitas unggul menjadi roda penggerak pembangunan yang efektif dan efisien. Sementara berdasarkan studi sebelumnya dari seluruh dunia, di mana ada banyak argumen yang diperdebatkan berdasarkan bukti penelitian dari para ahli. Beberapa temuan penelitian banyak mendukung maupun yang mendebat pernyataan tersebut. Berikut temuan dari para ahli dalam upaya mencari sintesis atas kebijakan bantuan keuangan dari pihak internasional untuk peningkatan sumberdaya manusia.

Pertama-tama, ada dua temuan studi terpisah yang didukung dan tidak mendukung argumen di atas. Banyak ahli yang melakukan studi dalam topik bantuan keuangan sebagai kebijakan publik memiliki dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembangunan manusia yang menunjukkan beberapa bukti berdasarkan temuan mereka. Pertama, temuan peneliti dari China (Yang, 2006) menyatakan bahwa kebijakan untuk memberi beasiswa berdampak positif pada siswa sarjana seperti mereka senang belajar di kelas, berhasil lulus kuliah, dan memiliki motivasi untuk melanjutkan studi mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Namun hasil riset menunjukan bahwa bantuan tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap prestasi pelajar. Kedua, Prof. Lang pada tahun 2011 menemukan bahwa mahasiswa semakin rendah kualitasnya di dunia. Dia melakukan penelitian dengan eksperimen dalam tiga kelompok dan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa tidak ada dampak dari program yang diujicobakan pada laki-laki namun berpengaruh positif pada perempuan. Selain itu, dalam cara ketiga eksperimen yang meliputi strategi layanan kelompok studi dan strategi beasiswa memiliki kebijakan potensial untuk diterapkan. Yang ketiga adalah temuan dari studi di Jepang oleh Slater pada tahun 2003. Pemerintah Jepang menerapkan kebijakan tersebut untuk memperbaiki kualitas manusia dengan dua strategi seperti bantuan berbasis kebutuhan si pelajardan bantuan berdasarkan prestasi. Temuan itu adalah bantuan berbasis merit memiliki cara yang lebih efektif daripada membutuhkan bantuan berbasis kebutuhan si pelajar. Keempat, temuan Dynarski di tahun 2005 yang berdasarkan analisis statistikanya, ada dampak positif dari kebijakan beasiswa terhadap prestasi belajar siswa. Meski demikian, tingkat signifikansi nilai tersebut masih bisa diperdebatkan karena tidak ada standar peningkatan nilai rata-rata (IPK) dan jumlah beasiswa.

Di sisi lain, argumen-argumen di atas memiliki antitesis atau hasil riset yang bersifat kontra, berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya. Pertama, argumen yang menyatakan bantuan keuangan internasional maupun nasional untuk pelajar sama sekali tidak memiliki efek yang diharapkan (Hughes, 2013). Jelas terlihat bahwa lebih baik pemerintah mengalokasikan untuk peningkatan layanan pendidikan di semua institusi pendidikan untuk menjangkau sebagian besar warga negara di masa depan yang kaya. Apalagi, Slavin dalam studinya pada 2010 menyatakan bahwa meski beberapa berkembang sebagai penerima bantuan keuangan dan negara maju karena donor mendapat dampak positif terhadap kualitas manusia dari skema tersebut, namun kenyataannya sedikit membaik pada prestasi akademik karena bantuan keuangan. program. Selanjutnya, dari studi kuantitatif tahun 2012 oleh Winter dan Smith menemukan bahwa penghargaan berdasarkan program beasiswa tidak memiliki korelasi yang signifikan untuk memperbaiki siswa yang cenderung belajar di kelas dan motivasi untuk menyelesaikan studinya. Terakhir, studi kesimpulan berasal dari Miller pada tahun 1997 yang menemukan bahwa beasiswa tersebut tidak bermakna bagi motivasi berprestasi siswa. Singkatnya,perdebatan di atas perlu dikaji secara mendalam dengan melihat temuan kontradiktif berdasarkan beberapa bukti kuat dari para ahli. Kita tidak bisa menyimpulkan apapun dari argumennya, tapi ini menjadi isu penting dalam studi lapangan kebijakan publik karena melibatkan banyak negara di dunia dalam skema perencanaan pembangunan.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo kiranya memerlukan berbagai solusi untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan isu pengembangan sumber daya manusia. Sehingga dari penjelasan deskriptif di atas memunculkan beberapa permasalahan penelitian diantaranya :
Agenda penelitian berikutnya :
1. Program evaluasi : Hubungan antara pemberian beasiswa dan prestasi belajar siswa di Kabupaten Kulon Progo?
2. Lebih efektif pemberian beasiswa yang berdasarkan kebutuhan pelajar atau yang berbasis prestasi/ merit ?
3. Bagaimana mencari skema peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendekatan pemberian beasiswa untuk pelajar?
4. Berapa persen dari APBD dimanfaatkan untuk pemberian beasiswa dan signifikansinya terhadap peningkatan IPM di Kulon Progo?

 

 

*) Penulis : Insan Hidayat - BAPPEDA KABUPATEN KULON PROGO.
Sedang menempuh pendidikan pascasarjana di National Graduate Institute for Policy Studies, Tokyo, Jepang

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak