Biogas: Mengatasi Limbah, Energi Berlimpah

Selasa, 18 September 2018 15:46:42 - Oleh : BG

Kulon Progo Meraih IGA 2018

Ketertarikan Pasaman Pada Inovasi Kulon Progo

DRD blusukan Sekolah Revolusi Mental di SMPN 3 Sentolo

Kunjungan Lapangan Unigal ke Kulon Progo

Studi Tiru Tanah Laut ke Kulon Progo Terkait RPJMD

Penggunaan teknologi sederhana, tepat guna dan ramah lingkungan tidak hanya menjadi retorika dalam upaya pembangunan daerah. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi ini akan dapat dengan mudah dikuasai masyarakat sehingga hasil pembangunan tidak hanya berupa bangunan fisik namun juga pemindahan pengetahuan dan ketrampilan kepada warga masyarakat (transfer of knowledge). Salah satu bentuk penerapan teknologi tersebut adalah pembangunan instalasi biogas untuk penanganan air limbah dengan kandungan bahan organik tinggi yaitu limbah kotoran ternak sapi dan industri tahu/tempe. Kedua kegiatan tersebut menghasilkan limbah yang mengganggu lingkungan bila tidak ditangani dengan cermat. Prinsip yang digunakan adalah melakukan konversi kandungan organik pada limbah dengan memanfaatkan bakteri anaerob untuk menjadi gas methane yang digunakan sebagai bahan bakar kompor untuk kebutuhan memasak ataupun yang lain.

Berdasarkan hasil kunjungan lapangan pada tanggal 6 dan 10 September 2018 yang dilakukan oleh tim dari Bidang Inbangwil, Bappeda terhadap beberapa lokasi pembangunan biogas di Kecamatan Panjatan, Sentolo, Nanggulan dan Pengasih yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup, teknologi biogas yang digunakan untuk limbah ternak adalah menggunakan konstruksi kubah statis (fixed dome). Bentuk pembangunan berupa; lantainisasi kandang untuk memudahkan pengisian limbah ternak, lubang inlet, digester, penampung sludge dan slurry (lumpur dan cairan sisa proses anaerob) dan resapan. Seluruh instalasi biogas ternak berfungsi dengan baik yang ditunjukkan dengan jumlah gas yang melimpah dan bahkan tekanannya terlalu berlebih bila hanya digunakan untuk satu rumah tangga saja. Sedangkan, untuk limbah industry tempe/tahu produksi gas masih terbatas karena proses anaerob yang masih membutuhkan waktu. Sisa keluaran dari instalasi ini, selain mengurangi bau yang tidak sedap juga dapat dijadikan sebagai pupuk yang sangat baik untuk tanaman.

Untuk mempermudah dan menjaga keberlanjutan dari pemanfaatan biogas, disarankan kepada pengelola biogas agar membuat grid bar (saringan inlet) agar bahan yang sukar diproses oleh digester tidak ikut masuk dan mengakibatkan terhentinya proses anaerob atau yang salah satunya dikenal dengan istilah foaming. Dengan teknologi sederhana ini, diharapkan masyarakat dapat dengan mudah melakukan pengoperasian, perawatan dan bahkan pengembangan ataupun duplikasi terhadap instalasi yang ada. (Marjianto)

« Kembali | Kirim | Versi cetak